KAMIS , 30 Juli 14 : XUL10 / F : | OPEN : 1,299.10 | HIGH : 1,303.70 | LOW : 1,291.60 | CLOSE : 1,295.95 |

Menanti Anies-Sandi Menata 1.000 PKL di Kota Tua

Share this history on :
PT RIFAN FINANCIDO BERJANGKA – Kesemrawutan sudah menjadi wajah sehari-hari Kota Tua di Jakarta Barat. Trotoar dan jalan diokupasi pedagang kaki lima (PKL) sudah bukan perkara mengangkut satu-dua gerobak lagi. Pembiaran yang berlarut-larut telah membuat setiap sudut kawasan Kota Tua diduduki PKL.

Di Jalan Lada yang memiliki tujuh lajur misalnya, tiga dari tujuh lajur diokupasi PKL. Trotoar di kanan kiri juga sama sesaknya oleh gerobak PKL. Akibatnya, pejalan kaki tumpah ke jalan dan menghambat laju kendaraan.

Kemacetan lalu lintas ada akhirnya berimbas pada perjalanan bus transjakarta. Di hari libur seperti Senin (1/1/2017) kemarin, dampak kesemrawutan itu sangat terasa sebab akses ke halte sampai dibatasi karena bus harus bergantian menembus kemacetan.

Seperti Tanah Abang
Fahrial, seorang pengunjung, mengeluhkan kondisi itu. Ia mengatakan seharusnya pedagang ditertibkan karena sudah sangat mengganggu ketertiban dan kelancaran lalu lintas orang dan kendaraan.

"Kalau pedagang satu-dua mungkin enggak apa-apa. Tapi kalau sudah nutupuin begini sampai susah lewat ya nggak bisalah, harus ditertibkan," kata dia.

Tak hanya pejalan kaki dan pengendara yang terdampak kesemrawutan PKL itu. Sesama pedagang pun kesal dengan kegiatan liar tersebut.

Waryani, pedagang nasi goreng di Lokbin Kota Intan misalnya. Sejak 2001, Waryani berjualan nasi goreng di depan Museum Wayang dan sekitar Kota Tua secara liar. Namun akhirnya ia ditempatkan di Lokbin Kota Intan di Jalan Cengkeh. Sayangnya, Lokbin Kota Intan sepi pengunjung. Waryani menuding hal itu disebabkan akses yang buruk serta masih adanya PKL liar.

"Itu harus ditertibkan, supaya penglaris ke sini. Kalau yang di luar masih jualan ya pengunjung pasti lebih pilih yang sana," ujar Waryani.

Ketika Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengunjungi Lokbin Kota Intan pada Minggu (31/12/2017), ia mendengar langsung keluhan dan permintaan itu. 

Namun Sandiaga mengatakan, pendekatan yang ia dan Anies terapkan terhadap PKL adalah penataan, bukan penertiban. Ia meminta waktu untuk memikirkan konsep penataannya.

Sumber: kompas.com

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Chart

DISCLAIMER
Semua dapat mengakses seluruh konten di Blog ini hanya untuk Edukasi dan Informasi semata. Jika anda merasa Blog ini bermanfaat, silahkan komentar. Semua Informasi yang terdapat dalam Blog kami ini, diusahakan menyajikan berita-berita terbaik dari berbagai sumber baik Nasional maupun Internasional, namun kami tidak menjamin keakuratannya. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian tidak langsung yang dialami pembaca akibat menggunakan informasi dari Blog ini. Kami berhak menyunting dan mengatur isi dari pembaca agar tidak merugikan orang lain karena Blog ini mengutamakan kedewasaan dalam beropini/berpendapat tanpa mewakili kelompok atau golongan apapun.
Copyright © 2013 PT. Rifan Financindo Berjangka Semarang.