KAMIS , 30 Juli 14 : XUL10 / F : | OPEN : 1,299.10 | HIGH : 1,303.70 | LOW : 1,291.60 | CLOSE : 1,295.95 |

FENOMENA ALAM, PETIR DAN PETAKA NAIKNYA SUHU DI KUTUB

Share this history on :

RIFANFINANCINDO

Rifanfinancindo - Semarang,  petir berulah belakangan ini. Minggu (23/4/2017) lalu, 3 orang pendaki tewas di Gunung Prau, Dieng. Saat hujan lebat terjadi, ketiganya berteduh dengan membangun bivak di sebuah tower. Mereka lantas menunggu hujan sambil bermain ponsel untuk mengusir kebosanan sebelum akhirnya petir menyambar.
Kasus itu bukan satu-satunya. Tiga warga Wajo yang tengah berteduh di bawah pohon juga tewas disambar petir. Bulan yang sama, tiga petani tewas dengan tubuh membiru saat tengah berlari menuju tempat berteduh.
Dan, bukan hanya manusia yang mati akibat petir. Agustus 2016, 323 rusa di Norwegia mati bersamaan setelah petir hebat melanda area padang rumput. Kejadian itu bisa dibilang salah satu dampak terburuk petir dalam sejarah.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa petir memang bisa membunuh. Namun, bagaimana bisa petir membunuh banyak individu sekaligus?
Peneliti petir dari Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika (STEI) di Institut Teknologi Bandung (ITB), Syarif Hidayat, mengatakan, meskipun sama-sama arus listrik, petir berbeda dari listrik yang mengalir dalam kabel-kabel di rumah kita.
" petir berbeda dengan listrik di rumah kita karena dia tidak sabaran. Arus listrik di rumah kita mau mengantre dalam kabel. petir tidak. Dia tidak peduli, maunya cepat-cepat sampai ke bumi," katanya.
Untuk menghantarkan arus ke bumi, petir cenderung memilih tempat terbuka, obyek yang tinggi, dan tonjolan di permukaan bumi. Obyek tinggi bisa berupa tiang ataupun pohon.
Adapun tonjolan bisa berupa bukit atau gunung maupun manusia, hewan, dan bangunan yang berada di tempat terbuka.
Jadi, orang yang berada di tengah sawah, bermain bola di lapangan, maupun berlayar di atas kapal di lautan terbuka bisa menjadi tonjolan yang siap disambar petir.
"Karena sifatnya yang tidak sabaran, maka saat ada tonjolan, petir akan menyambar semuanya tanpa pilih-pilih. Jadi memang tidak mengherankan petir bisa menyambar banyak obyek sekaligus," ungkap Syarif yang aktif mendata aktivitas petir di Indonesia.
Dari sisi kekuatan, tegangan petir pun sangat besar. Tegangan listrik yang bisa ditoleransi manusia 20 mili Ampere. Sementara, tegangan yang dihasilkan petir bisa mencapai 26.000 Ampere. Bagi petir, membunuh manusia adalah perkara mudah.
Dikutip dari situs Badan Atmosfer dan Kelautan Amerika Serikat(NOAA), petir bisa menyambar manusia lewat 5 cara. Pertama, menyambarnya secara langsung. Ini biasa terjadi bila manusia berada di tempat terbuka tanpa obyek lebih tinggi lain di dekatnya.
Cara kedua adalah side flash. Manusia bisa tersambar bila berada terlalu dekat dengan obyek tinggi lainnya. Ketiga adalah konduksi. Manusia bisa tersambar bila kontak dengan logam saat petirmenyambar.
Dua cara lainnya adalah penghantaran permukaan dan streamer. petirbisa menyambar obyek tinggi hingga ke pangkalnya lalu menghantarkan arus ke sekitarnya lewat permukaan tanah. Sementara streamer adalah mekanisme penghantaran lewat jalur khusus yang terbentuk di atmosfer.
Mengetahui sifat dan cara penghantaran petir, maka manusia sebenarnya bisa meminimalkan risiko tersambar. "Jangan berada di tempat terbuka. Lalu jangan berada pada jarak kurang dari 2 meter dari obyek yang tinggi agar tidak tersambar," kata Syarif.
Jangan berpikir bahwa obyek yang bisa menghantarkan petir hanya logam. Syarif mengatakan, petir berbeda dengan listrik di rumah kita.petir sumber arus, arusnya tetap, tetapi tegangan berubah-ubah. Sementara listrik di rumah kita merupakan sumber tegangan, tegangan tetap dan arus berubah-ubah.
Karena itu, untuk bisa ke bumi, petir bisa lewat kayu dan bambu yang bukan penghantar listrik baik.
Orang Indonesia perlu mewaspadai ancaman petir. Sejumlah wilayah Indonesia seperti Depok, Bogor, Riau, Jambi, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Barat tergolong sebagai rawan petir. Riset yang dilakukan Syarif mengungkap, Indonesia bisa mengalami 24 petir per kilometer per hari.
Temperatur permukaan bumi memang bervariasi. Ada yang luar biasa panas seperti Sahara hingga yang luar biasa dingin seperti Antartika.
Namun, 144 negara yang berpartisipasi dalam Persetujuan Paris 2015 mengumumkan bahwa kenaikan suhu bumi untuk abad ini harus dibatasi menjadi 1,5 derajat celcius, setengah derajat lebih rendah daripada sebelumnya.
Sebenarnya, mengapa para ilmuwan dan pemimpin dunia begitu peduli dengan kenaikan temperatur yang hanya 1,5 derajat ini?
Peter deMenocal, seorang ilmuwan iklim purba di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, New York, berkata bahwa kenaikan temperatur rata-rata planet bumi adalah permasalahan besar, walaupun hanya beberapa derajat saja.
“Seseorang yang tinggal di satu lokasi bisa mengalami perubahan besar pada cuaca dan iklim, tetapi hal ini biasanya terkompensasikan oleh perubahan di belahan bumi lainnya,” katanya kepada LiveScience.
Dia lalu menambahkan bahwa bumi kini 1,2 derajat lebih panas dibandingkan sebelum adanya industrialisasi.  Bandingkan angka tersebut terhadap perubahan suhu yang hanya lima derajat celcius sejak zaman es 15.000 tahun yang lalu.
Perubahan lima derajat ini membuat permukaan air laut naik sebanyak 106 meter dan membuat permukaan es pada bumi berkurang dari 32 persen menjadi hanya 10 persen di era modern ini.
Namun, di samping perubahan temperatur dan kenaikan air laut, pemanasan global juga dapat mengancam makanan, air, tempat tinggal, energi, kesehatan, hingga ekonomi.
Makanan
Perubahan iklim mempengaruhi ekosistem dan makanan kita, kata deMenocal.
Lautan yang menyediakan 20 persen makanan manusia, misalnya, menjadi lebih asam akibat peningkatan karbon dioksida yang terserap. Hal ini membuat ribuan spesies seperti tiram, kepiting, dan terumbu kesulitan untuk membuat cangkang pelindungnya.
Sementara itu, kenaikan dua derajat celcius pada daratan dapat melipatgandakan kekeringan air dan menurunkan hasil panen para petani. Temperatur yang terlalu panas juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman yang berbunga seperti jagung dan biji-bijian lainnya.
Tempat tinggal
DeMenocal berkata bahwa sebanyak 40 persen populasi dunia hidup dalam jarak 100 kilometer dari laut. Dengan meningkatnya temperatur dunia, permukaan air laut yang naik akibat es yang meleleh dapat menghancurkan kota dan tempat tinggal mereka.
Sebuah laporan pada tahun 2015 yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menemukan bahwa di antara 1901 ke 1990, rata-rata permukaan air laut meningkat sebanyak 1,2 milimeter per tahun. Namun, angka tersebut melejit menjadi tiga milimeter per tahun dari tahun 1993 ke 2010.
Energi
Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, sebanyak tujuh persen dari listrik di negara adidaya ini dibangkitkan menggunakan tenaga air. Akan tetapi, perubahan pola hujan dapat mengurangi kekuatan tenaga air.
“Hal ini tidak hanya mengancam Amerika Serikat, tetapi juga Eropa,” kata deMenocal.
Kesehatan
Menurut deMenocal, peningkatan temperatur dan perubahan pola hujan telah dihubungkan dengan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti penyakit Lyme dan malaria.
“Bahkan, ketika penyakit tersebut berhasil dihilangkan dari suatu area, perubahan cuaca akibat perubahan iklim dapat membuatnya bermigrasi ke area yang lain,” ujarnya.
Selain itu, beberapa area seperti Timur Tengah dan Amerika Barat bisa menjadi tidak dapat ditinggali manusia karena temperatur yang ekstrem.
Sebab, temperatur yang tinggi biasanya juga dibarengi oleh tingkat kelembapan yang tinggi. Kedua hal tersebut membuat keringat tidak bisa menguap dan mendinginkan tubuh manusia. Kondisi ini dapat berujung pada kematian.
Ekonomi
Sebuah laporan oleh Bloomberg pada tahun 2015 menemukan bahwa peningkatan temperatur, terutama di Amerika Tenggara, dapat menurunkan produktivitas pekerja yang bekerja di luar ruangan sebanyak tiga persen.
Walaupun sekilas terlihat kecil, angka tersebut dua kali lipat lebih besar dari penurunan produktivitas yang terjadi pada era ’70-an akibat inflasi dan resesi ekonomi.
Kelima malapetakan ini diperkirakan akan terjadi dalam 15 tahun, antara 2032 dan 2039 ketika temperatur bumi naik sebanyak 1,5 derajat celcius.

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Chart

DISCLAIMER
Semua dapat mengakses seluruh konten di Blog ini hanya untuk Edukasi dan Informasi semata. Jika anda merasa Blog ini bermanfaat, silahkan komentar. Semua Informasi yang terdapat dalam Blog kami ini, diusahakan menyajikan berita-berita terbaik dari berbagai sumber baik Nasional maupun Internasional, namun kami tidak menjamin keakuratannya. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian tidak langsung yang dialami pembaca akibat menggunakan informasi dari Blog ini. Kami berhak menyunting dan mengatur isi dari pembaca agar tidak merugikan orang lain karena Blog ini mengutamakan kedewasaan dalam beropini/berpendapat tanpa mewakili kelompok atau golongan apapun.
Copyright © 2013 PT. Rifan Financindo Berjangka Semarang.