KAMIS , 30 Juli 14 : XUL10 / F : | OPEN : 1,299.10 | HIGH : 1,303.70 | LOW : 1,291.60 | CLOSE : 1,295.95 |

WASPADA!! Racun Kantor Merajalela | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Share this history on :

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Rifan Financindo - Semarang,  Karyawan yang tidak kompeten dan kasar pada rekan kerja bisa memberikan pengaruh buruk, yakni membuat karyawan lainnya bersikap serupa.
Studi dari Michigan State University menyimpulkan bahwa karyawan tidak kompeten dan kasar merupakan racun yang bisa membahayakan perusahaan semakin jauh dari target dan sukses.
Sebab, karyawan yang demikian praktis tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dan hanya bisa mengalihkan pekerjan pada orang lain.
Russel Johnson, salah satu penulis studi dan profesor manajemen di Michigan State University, mengatakan bahwa karyawan yang berperilaku buruk dan tidak kompeten bisa menular pada rekan kerja lainnya.
“Orang yang terus menerus menghadapi dan mendapatkan perilaku tidak baik dari rekan kerja akan merasa lelah sepanjang waktu. Kelelahan itu bak bola salju yang membuat karyawan pun berperilaku kasar pada orang lain,” jelas Johnson.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Psychology menemukan bahwa perilaku ofensif dan kasar meliputi komentar negatif, menjatuhkan orang lain, sarkastik, dan hobi menunda pekerjaan.
Ternyata, karyawan dengan perilaku tidak baik berpengaruh pada biaya produksi perusahaan yang membengkak.
Sebab, mempertahankan karyawan tidak kompeten dan kasar membuat orang lain tidak betah sampai dengan memutuskan berhenti.
Nah, biaya rekrutmen dan pelatihan karyawan baru bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam satu tahun.
“Ketika karyawan secara emosional letih, maka sangat sulit untuk mereka berkonsentrasi pada penyelesaian kerja. Sulit untuk karyawan menyeimbangkan emosi agar tenang dan stabil,” imbuhnya.
Perilaku karyawan yang buruk, kata Johnson, memberikan efek buruk jangka panjang pada karyawan yang baik dan kompeten.
Kala seorang rekan kerja tengah menguji kesabaran Anda dengan sejumlah kebodohan yang mereka lakukan, maka kondisi ini akan menciptakan perputaran hormon dalam tubuh yang merugikan diri sendiri.
Rasa jengkel terhadap perilaku orang lain akan mengirimkan sinyal elektrik pada hormon stres, yaitu kortisol. Parahnya, koneksi ini akan menguraikan stres dalam tubuh dan pikiran.
Seiring waktu dengan semakin banyaknya ancaman dan beban yang Anda hadapi, aktivasi stres dalam tubuh pun semakin cepat terjadi.
Menurut Loretta G. Breuning PhD., penulis buku bertajuk Habits of a Happy Brain: Retrain Your Brain to Boost Your Serotonin, Dopamine, Oxytocin, & Endorphine Levels, ada sejumlah hormon dalam tubuh yang bisa membuat emosi Anda terus memuncak atau mereda akibat pengaruh buruk dari lingkungan sekitar.
Breuning mengatakan bahwa sumber stres dan tekanan yang di alami banyak orang dewasa ini adalah pekerjaan, terutama rekan kerja yang kompetitif, bodoh, dan tidak bertanggungjawab.
Oleh karena itu, Breuning menyarankan Anda melakukan tiga cara berikut ini:
Lawan hormon kortisol
Saat sedang merasa emosi dan merah, tubuh pun memproduksi hormon stresbernama kortisol.
Sayangnya, otak manusia dirancang untuk mawas terhadap ancaman ketika kortisol aktif.
Cara terbaik untuk melawan kortisol ini adalah dengan melakukan hal-hal menyenangkan, seperti misalnya, mendengarkan musik yang menenangkan sehingga emosi menjadi lebih dingin dan reda.
“Saat aku sedang merasa marah dan tegang, aku memilih membuat grafik, memotong sayuran, dan membaca email dari pembacaku. Terkadang, aku memilih stretching sembari menonton film televisi favoritku,” jelas Breuning.
Aktifkan hormon dopamin
Hormon dopamin adalah hormon bahagia yang akan menyingkirkan kortisol dari tubuh Anda.
Jangan biarkan kelakuan rekan kerja yang menjengkelkan membuat produksi dopamin dalam tubuh menyusut dan turun.
Caranya, bangun pikiran positif, tertawa, dan menyanyi untuk mengaktifkan hormon tersebut.
Anda perlu tahu, orang-orang dengan level dopamin tinggi memiliki peluang sukses lebih tinggi ketimbang mereka yang selalu marah-marah dan mengeluh selama bekerja di kantor.
Serotonin membuat Anda merasa dihargai
Ketika Anda merasa dihargai oleh orang lain, maka tubuh memproduksi hormon bernama Serotonin.
Serotonin membuat Anda merasa bangga, merasa dihargai, dan merasa memiliki kontribusi positif dalam suatu lingkungan sosial.
Breuning menyarankan, lain waktu rekan kerja membuat Anda “sakit kepala”, cobalah mengingat masa-masa di mana Anda merasa orang lain menghargai kerja Anda dan merasa kehadiran Anda menciptakan dampak baik pada banyak orang.
Ancaman dari pihak luar, kata Breuning, membuat Anda melupakan momen ketika Anda merasa dihargai. Oleh karena itu, basmi kortisol dengan aktif memproduksi serotonin.
Jadi, fokuskan pikiran pada tugas dan pekerjaan yang membuat merasa dihargai ketimbang mengingat penghargaan yang tidak Anda miliki.

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Chart

DISCLAIMER
Semua dapat mengakses seluruh konten di Blog ini hanya untuk Edukasi dan Informasi semata. Jika anda merasa Blog ini bermanfaat, silahkan komentar. Semua Informasi yang terdapat dalam Blog kami ini, diusahakan menyajikan berita-berita terbaik dari berbagai sumber baik Nasional maupun Internasional, namun kami tidak menjamin keakuratannya. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian tidak langsung yang dialami pembaca akibat menggunakan informasi dari Blog ini. Kami berhak menyunting dan mengatur isi dari pembaca agar tidak merugikan orang lain karena Blog ini mengutamakan kedewasaan dalam beropini/berpendapat tanpa mewakili kelompok atau golongan apapun.
Copyright © 2013 PT. Rifan Financindo Berjangka Semarang.