KAMIS , 30 Juli 14 : XUL10 / F : | OPEN : 1,299.10 | HIGH : 1,303.70 | LOW : 1,291.60 | CLOSE : 1,295.95 |

Devaluasi Yuan Jatuhkan Harga Minyak Mentah

Share this history on :
Ilustrasi Tambang Minyak 5 (Liputan6.com/M.Iqbal)
Rifan Financindo Berjangka - Harga minyak mentah dunia jatuh ke posisi terendah dalam enam tahun pada Rabu (12/8/2015) ini, usai pemerintah China mengambil langkah melakukan devaluasi mata uangnya, Yuan.

Harga minyak juga dipengaruhi keyakinan bahwa permintaan global tidak bisa mengejar membanjirnya pasokan di pasaran.

Melansir laman Wall Street Journal, harga minyak mentah light sweet untuk pengiriman September turun US$ 1,88 (4,2 persen) menjadi US$ 43,08 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini menjadi yang terendah sejak 11 Maret 2009, ketika perekonomian AS masih belum pulih dari krisis keuangan.

Sementara harga minyak mentah Brent, patokan global, turun US$ 1,23 (2,4 persen) ke posisi US$ 49,18 per barel di ICE Futures Europe.

Harga minyak terkena sentimen dari tingginya produksi yang mendekati level tertinggi dalam sejarah di Amerika Serikat dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak, menurut data terbaru.

Hal ini menunjukkan pemasok di seluruh dunia masih berjuang menggenjot output dan menurunkan harga yang telah susut hampir 60 persen dari posisi tertingginya di 2014.

Pukulan terbaru yang menghantam harga minyak datang dari Cina, yang mendevaluasi mata uangnya. Kebijakan China ini menyebarkan pesimisme di kalangan investor tentang ekonomi negara ini dan kemungkinan perang mata uang.

Yuan tercatat mengalami pelemahan terbesar satu hari dalam dua dekade menyusul keputusan bank sentral China ini.

Risiko dari kebijakan ini membuat komoditas impor ke China yang dihargakan dalam dolar seperti minyak menjadi lebih mahal. Ini menjadi tanda penurunan permintaan dari konsumen minyak terbesar kedua di dunia ini, kata para analis.

Hal ini juga bisa membuat dolar reli, faktor yang telah berulang kali mendorong harga minyak mentah menjadi lebih rendah.

"Ini menunjukkan bahwa ekonomi Cina masih berjuang untuk keluar dari pola perlambatan dan menjadi lonjakan pertumbuhan," jelas Dominick Chirichella, Analis Energy Management Institute dalam catatannya.
"Secara keseluruhan itu terus menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan utama minyak dunia tidak akan datang untuk menyelamatkan dari kelebihan pasokan pasar global minyak dalam waktu dekat," jelas dia.

Sebelumnya Lembaha Administrasi Informasi Energi AS menurunkan proyeksi harga minyak AS dan spot global sekitar 10 persen. Harga minyak AS diprediksi berada di posisi US$49,62 per barel dan Brent di US$ 54,40 per barel pada tahun ini.(Nrm/Igw)

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Chart

DISCLAIMER
Semua dapat mengakses seluruh konten di Blog ini hanya untuk Edukasi dan Informasi semata. Jika anda merasa Blog ini bermanfaat, silahkan komentar. Semua Informasi yang terdapat dalam Blog kami ini, diusahakan menyajikan berita-berita terbaik dari berbagai sumber baik Nasional maupun Internasional, namun kami tidak menjamin keakuratannya. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian tidak langsung yang dialami pembaca akibat menggunakan informasi dari Blog ini. Kami berhak menyunting dan mengatur isi dari pembaca agar tidak merugikan orang lain karena Blog ini mengutamakan kedewasaan dalam beropini/berpendapat tanpa mewakili kelompok atau golongan apapun.
Copyright © 2013 PT. Rifan Financindo Berjangka Semarang.